Dari MIMBARBERSAMA hari ini :
ANTARA TRADISI, BUDAYA DAN ESENSI
AGAMA
Arifin Abubakar
Jakarta, 22 september 2007
Puasa Ramadhan sudah datang (lagi).
Lengkap dengan hiruk pikuk berjuta pengeras
suara, teriakan-teriakan "sahuuuuur !" sedikit
lewat tengah malam, azan maghrib beragam gaya,
tarawih yang gegap gempita dan ceramah yang amat
sangat perlu rupanya diperdengarkan ke seantero
penjuru angin lewat pengeras suara. Tadarrus Al Qur'an
yang bukan tidak jarang terdengar sumbang karena
dibawakan oleh orang yang kurang paham tajwid. Begitupula
dengan penampilan para selebs yang bermetamorphose
secara instant menjadi juru dakwah layar kaca lengkap
dengan busana berjilbab yang aduhai. Semuanya sudah sesuai
benar dengan praduga jauh menjelang Ramadhan tiba.
Suatu taferil yang setiap tahun berulang. Tak ada yang
berubah. Dari tahun ke tahun itu itu juga yang kita lihat,
dengar dan saksikan. Balihoo "Marhaban Ya Ramadhan" (mengapa
bukan "Selamat Datang Wahai Ramadhan" ?) dimana-mana dan
seperangkat slogan lain yang lazim diperagakan setahun
sekali. Sementara akhlak umat tetap saja buruk malah cenderung
bertambah buruk……….
Sering hati ini bertanya "Sesuaikah itu dengan
petunjuk Rasulullah ?". Orang beribadah
dengan sendirinya ingin bertemu dengan Tuhan.
Ingin berdua-dua dengan Tuhan. Ingin
melepaskan rindunya kepada Tuhan. Ingin berbicara
dengan Tuhan. Ingin berkeluh kesah pada Tuhan.
Ingin mengadukan nasibnya kepada Tuhan. Ingin
mohon pertolongan Tuhan. Ingin mencari kedamaian.
Ingin berserah diri secara total kepada Tuhan.
Ingin mencari yang namanya Islam. Keberserahan diri.
Kedamaian hakiki. Haruskah itu dijemput dengan
serba massif, serba ramai,serba hiruk ? Pekakkah
Tuhan sehingga harus disapa dengan berteriak ?
Mungkin kita lupa bahwa kita sedang
berhadapan dengan gejala tradisi.
Tepatnya : agama yang dibungkus dalam
balutan tradisi. Baik tradisi negeri
asal Islam (Arab) maupun tradisi lokal. Sehingga
kadang-kadang sulit memilah mana yang sekedar "bentuk"
dan mana yang benar-benar "substansi". Mana yang sekedar
penampilan, dan mana yang inti. Pertama-tama tentu kita
sadar bahwa bahasa yang digunakan dalam ritual agama (Islam)
adalah bahasa Arab. Bukankah Nabi Muhammad orang Arab ?
Seandainya Islam diturunkan di Indonesia tentulah pula
bahasa Al Qur'an adalah bahasa Indonesia. Dan Al Qur'an
bukan lagi Al Qur'an namanya. Mungkin sekali namanya
"Bacaan". Dan mungkin istilah "nabi" menjadi "pengabar".
Mungkin "rasul" menjadi "utusan". Karena bukankah bahasa
hanya alat komunikasi ? Bukankah bahasa hanya sekedar
medium perantara ?
Tapi justru oleh karena itu maka,
apabila ditinjau dari fungsi bahasa,
mungkin kedudukan bahasa Arab sebagai
bahasa "agama" (Islam) sangat perlu
dipertanyakan : perlukah kita meminjam
bahasa bangsa lain untuk berbakti
kepada Tuhan ? Apakah Tuhan hanya paham
bahasa Arab saja ? Bukankah Tuhan "Maha
Mengetahui" ? Apa perlunya bahasa dalam
beragama ? Begitu Maha Mengetahuinya Tuhan,
sehingga apa yang tersirat dalam kalbu
– tanpa perlu diucapkan – Dia pun maha tahu ?
Setiap kali membaca "Ihdinas shirotol
mustaqim…" maka kita bermohon "Ditunjuki
jalan yang lurus" oleh Tuhan. Otomatis ?
Ya, karena sudah terbiasa salat. Walaupun
tidak paham bahasa Arab. Tapi bayangkan
kita sedang bertemu ayat yang didalamnya
ada "Wa idza adzaqnan nasa rohmatan
min ba'di dhorro'...." (QS 10/21) misalnya,
bukankah (sebahagian terbesar) kita harus
membuka terjemah (paling tidak) atau tafsir
sekaligus, sekedar untuk mengerti bahwa
ungkapan itu berarti "Dan apabila kami
merasakan kepada manusia suatu rahmat
sesudah (datangnya) bahaya....". Jadi
kita tidak dapat merasakan secara
instant arti maupun makna dari apa
yang kita baca. Arti maupun makna baru
dapat kita rasakan setelah melalui
proses penterjemahan atau penafsiran.
Bukankah itu ketinggalan namanya ?
Jadi, perlukah kita setiapkali meminjam
bahasa lain untuk sampai ke pemahaman ?
Untuk beragama ?
Bayangkan seorang yang bahasa ibunya
adalah bahasa Inggris : mana yang lebih
"sreg" dia baca, yaitu yang dia baca
dengan sepenuh hatinya, dengan sepenuh
sukmanya : "Al haqqu min robbika fala
takunanna minal mumtarin" (QS 3/60) atau
"(This is) the truth from your Lord,
so be not of those who doubt" ?
Kita tahu bahwa keragaman adalah hukum Tuhan.
Adalah sunnatullah. Dengan demikian
maka beragamnya bangsa, bahasa, warna
kulit - dan agama – juga merupakan
sunnatullah, bukan ? Jadi apa perlunya
bahasa Arab diunggulkan diatas bahasa-
bahasa lainnya ? Apabila itu memang
menjadi kehendak Tuhan, maka bukankah
karena itu Tuhan bersikap preferential ?
Bersikap pilih kasih ? Melebihkan martabat
segala yang berbau Arab diatas yang lainnya ?
Logiskah itu ? Sehingga mewujudlah orang Arab
itu sebagai Ubermensch yang kedudukannya lebih
tinggi dari bangsa lain ?
Hari-hari ini suasana memang terasa
lebih "religius". Betapa tidak. Dimana-
mana terdengar orang melantunkan ayat-
ayat suci Al Qur'an. Dari masjid, surau,
musollla dan rumah-rumah penduduk. Kerap
saya tertegun sendiri memikirkan fenomena
ini : pahamkah mereka yang sedang
"bersenandung" itu akan apa yang sedang
dibacanya ? Mungkin sekali tidak. (Coba
saja pikir : berapa banyak kursus bahasa
Arab ketimbang kursus bahasa Inggris ?
Hampir seratus persen dari mereka yang
paham bahasa Arab mendapatkan ilmu ini
dari lingkungan pesantren. Suatu lingkungan
yang khusus. Nah berapa persen manusia
Indonesia yang pernah mengenyam kehidupan
nyantri di pesantren ?) Dan si pembaca
Al Qur'an itu sendiri tetap saja terus
membaca (walau tidak paham sedikit pun)
seolah-olah terbius oleh lagu yang dibawakannya.
Dan biasanya sesekali dibalas oleh para
penyimak dengan bergumam "Allah....".
Mungkin juga disinilah terletak salah
satu keunggulan Al Qur'an : tanpa dipahami
pun dia tetap enak dibaca (= dilagukan)
dan juga didengarkan. Tapi, betulkah mereka sedang
"beragama" kalau begitu ?
Bukankah Al Qur'an itu sarat dengan
pesan sakral ? Yang diperlukan manusia
untuk menjalani kehidupan dengan baik ?
Dan bahwa untuk itu Al Qur'an perlu dipahami
isinya ? Bukan dilagukan ? Perlu dihayati,
dan bukan hanya untuk dicium dan diletakkan
ditempat yang terhormat ? Tanpa sedikit pun
tahu apa pesan-pesan intinya ? Bukankah yang
lebih diperlukan adalah pembudayaan membaca
tafsir Al Qur'an dan bukan huruf-huruf Arab
yang hanya diketahui cara "membunyikannya"
yang kosong dari arti dan makna kalau dibaca
sambil dilagukan, karena tidak paham bahasanya ?
Fenomena lain yang juga asyik untuk
disimak adalah pengambil-alihan unsur-
unsur kultur Arab lainnya nyaris secara
paripurna kemudian memberinya label
agama. Sekedar contoh saja : bukankah
orang yang sudah menunaikan ibadah haji
senang sekali memakai "kopiah haji" ?
Padahal kopiah haji samasekali tidak
relevan dengan kehajian seseorang.
Begitupula dengan sorban, gamis atau
jubah, yang sesungguhnya tidak ada
sangkut pautnya dengan martabat taqwa
seseorang, tapi orang sangat gemar
memakai busana ini karena nuansa "religius"
nya. Padahal sorban 100% adalah elemen
kultur Arab yang fungsi awalnya adalah
untuk melindungi muka dari terpaan badai
gurun pasir. Alangkah menggelikan
apabila busana yang fungsinya terkait
dengan perangai khas gurun pasir digunakan
di Indonesia sebagai icon agama, sedangkan
di Indonesia jelas tidak ada gurun pasirnya
samasekali apalagi badai pasir. Perlukah
sorban, gamis dan jubah dalam mendekatkan
diri kepada Tuhan ? Begitupula dengan
orkes gambus plus irama "padang pasirnya",
yang sudah lama didaulat sebagai icon
Islam. Sering digunakan dahulu sebagai
musik latar belakang acara dakwah.
(Alhamdulillah sekarang sudah mulai
terlihat bergeser kearah musik-musik
lain).
Demikianlah kita lihat betapa arabisasi
Islam berlangsung di kawasan Nusantara
ini. Sedemikian rupa sehingga Islam pun
dikenal sebagai agama padang pasir.
Padahal Islam kental sekali ke-universalannya.
Arabisasi sudah berhasil mengerdilkan Islam,
sehingga perilaku kriminal oknum-oknum
Arab langsung saja berimbas kepada Islam,
seolah-olah islam itu milik Arab. Dan
akhirnya melekatlah stigma terorisme secara
menyeluruh kepada apa pun yang berbau islam.
Dan kita sebagai komunitas Islam merasa
dipojokkan dengan sikap Barat yang menyalahkan
Islam terutama sekali pasca peristiwa 9/11.
Padahal bukankah kita yang memicu sebabnya
dengan menggadaikan keagungan Islam karena
mau tampil sok Arab ?
Padahal esensi agama samasekali tidak
memerlukan bahasa atau pun unsur budaya
lainnya. Yang diperlukan adalah kemauan
untuk kembali kepada fitrah. Kembali
pada hati nurani. Kembali pada yang tidak
pernah berbohong. Yang selalu jujur.
Hati nurani yang Dianugerahkannya kepada
pribadi kita masing-masing. Ikutilah hati
nuranimu, maka engkau akan selamat. Bohongi
hati nuranimu, insyaallah engkau akan sesat.
Arifin Abubakar
Jakarta, 22 September 2007