elly's posts with tag: journal

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag journal
Blog EntryAntara Tradisi, Budaya dan esensi AgamaSep 22, '07 12:26 PM
for everyone
 

Dari MIMBARBERSAMA hari ini :

 

ANTARA TRADISI, BUDAYA DAN ESENSI

AGAMA

 

Arifin Abubakar

Jakarta, 22 september 2007

 

Puasa Ramadhan sudah datang (lagi).

Lengkap dengan hiruk pikuk berjuta pengeras

suara, teriakan-teriakan "sahuuuuur !" sedikit

lewat tengah malam, azan maghrib beragam gaya,

tarawih yang gegap gempita dan ceramah yang amat

sangat perlu rupanya diperdengarkan ke seantero

penjuru angin lewat pengeras suara. Tadarrus Al Qur'an

yang bukan tidak jarang terdengar sumbang karena

dibawakan oleh orang yang kurang paham tajwid. Begitupula

dengan penampilan para selebs yang bermetamorphose

secara instant menjadi juru dakwah   layar kaca lengkap

dengan busana berjilbab yang aduhai. Semuanya sudah sesuai

benar dengan praduga jauh menjelang Ramadhan tiba.

Suatu taferil yang setiap tahun berulang. Tak ada yang

berubah. Dari tahun ke tahun itu itu juga yang kita lihat,

dengar dan saksikan. Balihoo "Marhaban Ya Ramadhan" (mengapa

bukan "Selamat Datang Wahai Ramadhan" ?) dimana-mana dan

seperangkat slogan lain yang lazim diperagakan setahun

sekali. Sementara akhlak umat tetap saja buruk malah cenderung

bertambah buruk……….

 

 

Sering hati ini bertanya "Sesuaikah itu dengan

petunjuk Rasulullah ?". Orang beribadah

dengan sendirinya ingin bertemu dengan Tuhan.

Ingin berdua-dua dengan Tuhan. Ingin

melepaskan rindunya kepada Tuhan. Ingin berbicara

dengan Tuhan. Ingin berkeluh kesah pada Tuhan.

Ingin mengadukan nasibnya kepada Tuhan. Ingin

mohon pertolongan Tuhan. Ingin mencari kedamaian.

Ingin berserah diri secara total kepada Tuhan.

Ingin mencari yang namanya Islam. Keberserahan diri.

Kedamaian hakiki. Haruskah itu dijemput dengan

serba massif, serba ramai,serba hiruk ? Pekakkah

Tuhan sehingga harus disapa dengan berteriak ?

 

Mungkin kita lupa bahwa kita sedang

berhadapan dengan gejala tradisi.

Tepatnya : agama yang dibungkus dalam

balutan  tradisi. Baik tradisi negeri

asal Islam (Arab) maupun tradisi lokal. Sehingga

kadang-kadang sulit memilah mana yang sekedar "bentuk"

dan mana yang benar-benar "substansi". Mana yang sekedar

penampilan, dan mana yang inti. Pertama-tama tentu kita

sadar bahwa bahasa yang digunakan dalam ritual agama (Islam)

adalah bahasa Arab. Bukankah Nabi Muhammad orang Arab ?

Seandainya Islam diturunkan di Indonesia tentulah pula

bahasa Al Qur'an adalah bahasa Indonesia. Dan Al Qur'an

bukan lagi Al Qur'an namanya. Mungkin sekali namanya

"Bacaan". Dan mungkin istilah "nabi" menjadi "pengabar".

Mungkin "rasul" menjadi "utusan". Karena bukankah bahasa

hanya alat komunikasi ? Bukankah bahasa hanya sekedar

medium perantara   ?

 

Tapi justru oleh karena itu maka,

apabila ditinjau dari fungsi bahasa,

mungkin kedudukan bahasa Arab sebagai

bahasa "agama" (Islam) sangat perlu

dipertanyakan : perlukah kita meminjam

bahasa bangsa lain untuk berbakti

kepada Tuhan ? Apakah Tuhan hanya  paham

bahasa Arab saja ? Bukankah Tuhan "Maha

Mengetahui" ? Apa perlunya bahasa dalam

beragama ? Begitu Maha Mengetahuinya Tuhan,

sehingga apa yang tersirat dalam kalbu

– tanpa perlu diucapkan – Dia pun maha tahu ?

 

Setiap kali membaca "Ihdinas shirotol

mustaqim…" maka kita bermohon "Ditunjuki

jalan yang lurus" oleh Tuhan. Otomatis ?

Ya, karena sudah terbiasa salat. Walaupun

tidak paham bahasa Arab. Tapi bayangkan

kita sedang bertemu ayat yang didalamnya

ada "Wa idza adzaqnan nasa rohmatan

min ba'di dhorro'...." (QS 10/21) misalnya,

bukankah (sebahagian terbesar) kita harus

membuka terjemah (paling tidak) atau tafsir

sekaligus, sekedar untuk mengerti bahwa

ungkapan itu berarti "Dan apabila kami

merasakan kepada manusia suatu rahmat

sesudah (datangnya) bahaya....". Jadi

kita tidak dapat merasakan secara

instant arti maupun makna dari apa

yang kita baca. Arti maupun makna baru

dapat kita rasakan setelah melalui

proses penterjemahan atau penafsiran.

Bukankah itu ketinggalan namanya ?

Jadi, perlukah kita setiapkali meminjam

bahasa lain untuk sampai ke pemahaman ?

Untuk beragama ?

 

Bayangkan seorang yang bahasa ibunya

adalah bahasa Inggris : mana yang lebih

"sreg" dia baca, yaitu yang dia baca

dengan sepenuh hatinya, dengan sepenuh

sukmanya : "Al haqqu min robbika fala

takunanna minal mumtarin" (QS 3/60) atau

"(This is) the truth from your Lord,

so be not of those who doubt" ?

 

Kita tahu bahwa keragaman adalah hukum Tuhan.

Adalah sunnatullah. Dengan demikian

maka beragamnya bangsa, bahasa, warna

kulit - dan agama – juga merupakan

sunnatullah, bukan ? Jadi apa perlunya

bahasa Arab diunggulkan diatas bahasa-

bahasa lainnya ? Apabila itu memang

menjadi kehendak Tuhan, maka bukankah

karena itu Tuhan bersikap preferential ?

Bersikap pilih kasih ? Melebihkan martabat

segala yang berbau Arab diatas yang lainnya ?

Logiskah itu ? Sehingga mewujudlah orang Arab

itu sebagai Ubermensch yang kedudukannya lebih

tinggi dari bangsa lain ?

 

Hari-hari ini suasana memang terasa

lebih "religius". Betapa tidak. Dimana-

mana terdengar orang melantunkan ayat-

ayat suci Al Qur'an. Dari masjid, surau,

musollla dan rumah-rumah penduduk. Kerap

saya tertegun sendiri memikirkan fenomena

ini : pahamkah mereka yang sedang

"bersenandung" itu akan apa yang sedang

dibacanya ? Mungkin sekali tidak. (Coba

saja pikir : berapa banyak kursus bahasa

Arab ketimbang kursus bahasa Inggris ?

Hampir seratus persen dari mereka yang

paham bahasa Arab mendapatkan ilmu ini

dari lingkungan pesantren. Suatu lingkungan

yang khusus. Nah berapa persen manusia

Indonesia yang pernah mengenyam kehidupan

nyantri di pesantren ?) Dan si pembaca

Al Qur'an itu sendiri tetap saja terus

membaca (walau tidak paham sedikit pun)

seolah-olah terbius oleh lagu yang dibawakannya.

Dan biasanya sesekali dibalas oleh para

penyimak dengan bergumam "Allah....".

Mungkin juga disinilah terletak salah

satu keunggulan Al Qur'an : tanpa dipahami

pun dia tetap enak dibaca (=  dilagukan)

dan juga didengarkan. Tapi, betulkah mereka sedang

"beragama" kalau begitu ?

 

Bukankah Al Qur'an itu sarat dengan

pesan sakral ? Yang diperlukan manusia

untuk menjalani kehidupan dengan baik ?

Dan bahwa untuk itu Al Qur'an perlu dipahami

isinya ? Bukan dilagukan ? Perlu dihayati,

dan bukan hanya untuk dicium dan diletakkan

ditempat yang terhormat ? Tanpa sedikit pun

tahu apa pesan-pesan intinya ? Bukankah yang

lebih diperlukan adalah pembudayaan membaca

tafsir  Al Qur'an dan bukan huruf-huruf Arab

yang hanya diketahui cara "membunyikannya"

yang kosong dari arti dan makna kalau dibaca

sambil dilagukan, karena tidak paham bahasanya ?

 

Fenomena lain yang juga asyik untuk

disimak adalah pengambil-alihan unsur-

unsur kultur Arab lainnya nyaris secara

paripurna  kemudian memberinya label

agama. Sekedar contoh saja : bukankah

orang yang sudah menunaikan ibadah haji

senang sekali memakai "kopiah haji" ?

Padahal kopiah haji samasekali tidak

relevan dengan kehajian seseorang.

Begitupula dengan sorban, gamis atau

jubah, yang sesungguhnya tidak ada

sangkut pautnya dengan martabat taqwa

seseorang, tapi orang sangat gemar

memakai busana ini karena nuansa "religius"

nya. Padahal sorban 100% adalah elemen

kultur Arab yang fungsi awalnya adalah

untuk melindungi muka dari terpaan badai

gurun pasir. Alangkah menggelikan

apabila busana yang fungsinya terkait

dengan perangai khas gurun pasir digunakan

di Indonesia sebagai icon agama, sedangkan

di Indonesia jelas tidak ada gurun pasirnya

samasekali apalagi badai pasir. Perlukah

sorban, gamis dan jubah dalam mendekatkan

diri kepada Tuhan ? Begitupula dengan

orkes gambus plus irama "padang pasirnya",

yang sudah lama didaulat sebagai icon

Islam. Sering digunakan dahulu sebagai

musik latar belakang acara dakwah.

(Alhamdulillah sekarang sudah mulai

terlihat bergeser kearah musik-musik

lain).

 

Demikianlah kita lihat betapa arabisasi

Islam berlangsung di kawasan Nusantara

ini. Sedemikian rupa sehingga Islam pun

dikenal sebagai agama padang pasir.

Padahal Islam kental sekali ke-universalannya.

Arabisasi sudah berhasil mengerdilkan Islam,

sehingga perilaku kriminal oknum-oknum

Arab langsung saja berimbas kepada Islam,

seolah-olah islam itu milik Arab. Dan

akhirnya melekatlah stigma terorisme secara

menyeluruh kepada apa pun yang berbau islam.

Dan kita sebagai komunitas Islam merasa

dipojokkan dengan sikap Barat yang menyalahkan

Islam terutama sekali pasca peristiwa 9/11.

Padahal bukankah kita yang memicu sebabnya

dengan menggadaikan   keagungan Islam karena

mau tampil sok Arab ?

 

Padahal esensi agama samasekali tidak

memerlukan bahasa atau pun unsur budaya

lainnya. Yang diperlukan adalah kemauan

untuk kembali kepada fitrah. Kembali

pada hati nurani. Kembali pada yang tidak

pernah berbohong. Yang selalu jujur.

Hati nurani yang Dianugerahkannya kepada

pribadi kita masing-masing. Ikutilah hati

nuranimu, maka engkau akan selamat. Bohongi

hati nuranimu, insyaallah engkau akan sesat.

 

 

Arifin Abubakar

Jakarta, 22 September 2007


Blog EntryCara Hidup di Canada 2Jan 18, '07 8:34 PM
for everyone
Golongan 2 : Imigran yang datang bersamaan kami s/d Sept 11, 2001, persyaratan masih belum begitu ketat. Sebelum menjadi imigran ditanya pendidikan, ijazah yang dipunyai, ada temen atau relationship, bisa berbahasa Inggeris, kesehatan, property, police record, dan kesehatan. Umur untuk masuk pada waktu itu masih belum menjadi masalah. Kami masuk sebagai retired yang terachir. Ada yang masuk dengan investment membeli perusahaan atau foodcourt sebagai syarat untuk condition, atau dengan jalan lain minimum menaruh uang di Bank minimum kurleb sekitar $350,000 selama 5 tahun dengan catatan diberi interest minim oleh Pemerintah.

Sesudah itu masuk dengan peraturan untuk retiredment dihapus kecuali disponsori anak2.

Health Insurance naik menjadi $300/orang/tahun. Kendaraan mobil harus insured untuk mendapatkan plaat nomor. Untuk pendatang mula2 membayarnya $2000/tahun. Bahasa Inggeris tidak sempurna masih diperbolehkan masuk sebagai imigran.

Karena terlalu generous, Pemerintah Canada mulai sadar mengenai keuanganya, sudah tidak main obral lagi. Paket untuk imigran yang baru datang dihapus. Didalam Negeri pengurangan pengeluaran terus di galakkan di segala bidang dari pegawai sipil, perawat2 dan dokter2 dikurangi tenaganya, rumah sakit yang tidak perlu di tutup. Rumah sakit hewan tadinya mendapat support, tidak mendapat lagi. Periksa Opthometry dahulu dapat ganti sekarang usia produktive harus bayar. Karena banyak cut the budget, akibatnya sampai menunda segala macam operasi di rumah sakit. Gaji guru semestinya naik dalam beberapa tahun terpaksa di tunda. Di adakan pajak GST dan PST untuk barang2 yang dibeli untuk mengurangi defisit. Kekecualian bagi yang pendapatan rendah dapat rebate GST dan PST. Akibatnya segala macam pajak digalakkan untuk mengurangi defisit. Income tax naik menjadi 26% dari Income tadinya 25% sudah berat, bagi yang income diatas minimum wages, sesudah dipotong untuk kebutuhan hidup. Hidup harus di hemat istilah Indonesia ikat pinggang supaya agak kecil. Karena salah pemerintah terlalu obral menjadikan semua orang kena.

Kami yang sebagai imigran2 yang tidak bekerja sebaiknya menghargai pada teman2 lainya yang setia membayar tax untuk kami yang belum punya penghasilan supaya bisa hidup sama2 senang. Berterima kasih kami bisa masuk ke Canada dengan muda tanpa kesulitan. Kalau tidak ada mereka apakah kita bisa hidup enak seperti sekarang. Sebaiknya segala uneg2 di kesampingkan dulu dan ketidak keserasian diselesaikan dengan baik2. Sebagai manusia tidak bisa hidup prejudice untuk kepentingan sendiri saja, tidak semua keinginanya bisa di turuti dan diikuti tanpa bantuan orang lain. Ingat orang Canada sudah mau rela membayar tax tidak sedikit demi mensejahterakan teman2 se Canada supaya bisa hidup dengan good quality. Banyak facilitas2 yang kami bisa terima seperti sekolah, Library, taman indah, keamanan tanpa banyak copet, jalan2 bersih dan tidak berlubang. Mayoritas disini rata2 juga tidak mengganggu, mengejek, respect to other people dsb. Pajak Canada termasuk golongan paling tinggi di Dunia. Untungnya orang Indonesia disini yang tidak membayar pajak masih bisa hidup berdampingan dan toleransi. Sementara belum ada yang sampai dideportasi, semoga saja terus bisa menjaga sikap, terutama anak muda jangan sampai terpancing emosi. Kepinteran bukan jaminan untuk tidak dideportasi, Canada tidak membutuhkan kalau tidak sependapat umum, bila perlu bisa dideportasi. Yang sudah dideportasi sudah ada beberapa contohnya, di curigai sebagai kaki tangan nasi, speeding anak2 muda tabrak orang mati, dll. Dimana saja kita hidup tidak bisa se-mena2, semua tunduk pada hukum yang berlaku.

Soal economi orang Indonesia tetap tidak ada masalah, untungnya tidak terpengaruh, soalnya sudah biasa hidup minim di Indonesia, tidak ada keluhan. Yang kena getahnya yalah bule2, soalnya hidupnya sudah di nina bobokan oleh pemerintah harus mengurangi kesenanganya, merasa berat. Orang Indonesia walaupun membawa Ijazah dari negaranya atau istilah menyandang sarjana, tidak mudah mendapat kerjaan menurut kepandaianya/keachlianya. Soalnya Canada minta pengalaman Canada dan lulusan dari Canada. Pernah disinggung oleh teman kami Naila sopir taxi bisa menjadi dokter jantung asal mau kembali study, sedang yang sudah dokter jantung di negaranya terpaksa menjadi sopir.

Pendidikan: Guru2 banyak kena lay off, satu kelas tadinya 15 murid sekarang menjadi 25. Dahulu sesudah sekolah anak2 masih harus ke Library, sekarang dihapus, karena jam guru mengajara dikurangi. Pendidikan menjadi sedikit merosot, sebab jam kerja guru berkurang.

Health insurance naik menjadi $300/orang/tahun. Alat2 sebetulnya sudah banyak out of date perlu pembaruhan.

Peraturan welfare berubah. Orang hanya boleh welfare 6 bulan, sesudah itu harus berusaha mencari kerja. Kalau tidak mendapat welfare disini bisa mati kedinginan. Pendatang dari Indonesia hampir dikata tidak ada yang sampai welfare lama. Kalau hidup sebagai welfare bagi kita sangat malu sama teman, tidak mau terang2an mau bilang on welfare karena mempunyai dignity. Food bank dari gereja2 banyak membantu yang tidak mampu. Bukanya setiap minggu bisa mengambil makanan untuk kebutuhan makan dan pakaian yang mau menolong memberi bantuan bagi welfare. Pensiun baru di berikan sesudah umur 65 dan paling sedikit tinggal 10 tahun di Canada. Uang pensiun di berikan dengan jumlah dikurangi menjadi hanya $400/bulan, tidak seperti semula lagi $800/bulan. Kalau punya pendapatan lebih dari $8000/tahun dan umur pada waktu datang sudah tua, pensiun diterimanya berkurang menjadi $110. Sebab dianggap belum cukup lama membayar pajak pada pemerintah.  Sebaliknya yang lahir disini, tidak punya pendapatan sama sekali dan tidak punya uang di bank, dapat support dari Government sehingga jumlah yang diterima $800/bulan, walaupun punya rumah.  Bagi orang tua, anak2nya sudah tidak repot ngurus orang tua mereka, sudah ada yang mengurus yaitu urusan pemerintah. Orang tua yang cukup bisa mengurus dirinya sendiri, kalau tidak mampu masuk rumah orang tua yang ada perawatnya datang setiap hari untuk membantu membersihkan.

to be continued

Blog EntryCara Hidup di Canada 1Jan 18, '07 6:02 PM
for everyone
Hidup bagi kebanyakan orang Indonesia yang datang di Canada disini menurut sepengetahuan kami dibagi 3 golongan tergantung pada peraturan imigrasi pada waktu itu:

1. Orang datang sebagai PR( Permanent Resident) jauh sebelum kedatangan kami kurleb permulaan tahun 1991.
2. Orang datang sebagai PR antara Sesudah kedatangan kami sampai sebelum September 11,2001.
3. Kedatangan orang Sept 11, 2001 s/d sekarang.

Golongan 1: Orang Indonesia yang datang kebanyakan pekerja keras dan sebagian kecil merupakan pelajar yang sekolah di Rusia atau Jerman Timur yang takut kembali ke indonesia. Persyaratan kesehatan penting sekali untuk memasuki Canada. Bahasa Inggeris maupun Perancis tidak termasuk persyaratan waktu itu. Ada yang tidak bisa berbahasa Inggeris atau Perancis bisa lolos diterima sebagai PR. Seperti Chinese, Sikh, Hong Kong, Vietnam, Korea dll tidak berbahasa Inggeris atau Perancis.  Waktu itu screening imigration tidak begitu ketat, sebab Canada masih butuh penduduk. Mereka kebanyakan pekerja, pedagang, ada beberapa yang asalnya sudah kecukupan datang sebagai retiredmen. Beberapa ada yang bisa menyandang title lulusan Jerman dan lulusan Canada. Kebanyakan orang Indonesia pada waktu itu mengumpul di Toronto. Sebab disana bisa mendapat pekerjaan relative lebih mudah dan penduduk lebih banyak Toronto dibandingkan Vancouver, walaupun cuaca lebih cocok di Vancouver bagi orang Indonesia dibandingkan Toronto. Mereka semuanya senang bisa bekerja semuanya. Bagi PR baru langsung berhubungan dengan Consulate masing2 setempat. Bagi orang Indonesia bisa pergi ke Consulate Indonesia, menanyakan info mengenai tempat agama yang di ikutinya. Nanti disitu diberi penjelasan dimana tempatnya, dan bisa ketemu teman se iman dan mereka senang menerimanya, walaupun tidak se iman tetapi sama dari Indonesia. Sebab jauh dari tempat asalnya, kita seperti saudara di perantauan tidak memandang perbedaan agama. Kalau di BC tempatnya Vancouver. Consulate Indonesia di Vancouver naik tingkatnya menjadi Consulate General.

Soal economi mereka pada umunya tidak ada keluhan. Ada keluhan dari beberapa orang karena tidak paham tentang system perdagangan. Sampai ada kecewa disebabkan tertipu sama bangsa lain atau temen sendiri. Untungnya orang Indonesia di Canada bisa hidup untuk mencukupi untuk penghidupan famili masing2.

Sekolah sampai dengan SMA di tanggung oleh pemerintah, kecuali yang mau sekolah swasta kepunyaan Katholik atau Keristen harus ditanggung sendiri. Bagi orang tua yang pendapatan minimum dibawa standard anaknya mendapat child support , tiap anak kerleb $200 sampai umur 18 tahun stop. Dianggap anak sudah bisa bekerja. Memang rata2 anak disini kalau summer mencari kerja untuk uang saku dan uang sekolah sendiri. Bagi orang tua yang pendapatan cukup lebih dari minimum tidak dapat support dari pemerintah, atau istilah hilang child supportnya.

Urusan pengobatan dan welfare. Untuk lain province lain aturan mainya, di Toronto tidak ada health insurance. Tetapi diambil dari property tax yang lebih tinggi dari pada Vancouver. Di BC kesehatan di tanggung oleh health insurance. Health care waktu kami belum datang kurang dari $200/orang/tahun.

Bagi orang yang tidak mempunyai penghasilan dapat welfare seorang $800. Bagi imigran yang baru datang diberi paket, isinya susu, roti kering, gula, selei, sardine, meatloaf, dll. Yang tidak bisa mendapat pekerjaan bisa minta welfare. Tidak ada batas waktu menerima welfare selama belum bisa bekerja. Imigran umur 65 bisa minta segera old age pensiun, walaupun belum 10 tahun tinggal di Canada. Tidak pandang kaya dan miskin pada waktu itu semua rata dapat pensiun. Bagi yang tidak punya rumah mendapat tambahan uang sewa.

to be continued



Blog EntryBreak InJan 3, '07 7:36 PM
for everyone
Kamarin siang jam 2 siang hari kedua di tahun baru, di ajak sama hubby pergi mall mau membeli pisau cukur. Kami tidak curiga sama sekali bakal kemasukan tamu tidak di undang. Kami berdua keluar rumah dengan tenang meluncur naik mobil ke Wall Mart dan membeli LapTop yang jaraknya kurleb 25 menit dari rumah.

Sebelum shopping di Wall Mart, hubby mengambil uang di Bank dulu secukupnya. Biasa di Canada tidak pernah menyimpan uang sampai lebih dari $100,-. Dari Bank ke Wall Mart tidak jauh, beli alat untuk mencukur rambut, harganya tidak mahal. Habis dari Wall Mart terus ke rumah penjual Lap top. Kami dapat Lap Top dengan harga murah, omong2 bagaimana cara menjalankan Lap Top sampai jam 3.30. Achirnya harga Lap Top kalau dijumlahkan menjadi mahal karena kecurian.

Perjalanan pulang lancar, masa winter jam 4 sore sudah petang. Sesampai di rumah kami terkejut melihat pintu rumah lubang dalam keadaan tertutup. Saya langsung turun dari mobil saya puter handle pintu, pintu dengan mudah terbuka. Langsung kami check kedalam rumah, ingin tau barang yang hilang.

Computer masih ada, TV masih ada, kamar tidur morat marit tempat pakaian di aduk kiranya. Akken Tas hitam untuk membawa file kelihatanya dilempar karena didalamnya tidak ada barang yang berharga. Tas2 saya di sebar di bawa tidak ada uangnya. Ternyata yang hilang adalah kunci duplicat mobil, dan camera. Kami call police dan anak kami. Anak dan mantu datang, membantu menutup yang pintu yang lubang di dobrak pencuri. Dua Polices wanita cantik2 datang, mencatat apa saja yang hilang. Memberi nasehat kunci mobil sebaiknya di ganti, dibuatkan yang baru, se-waktu2 pencuri bisa datang pula untuk mencuri mobil. Hubby mengurus insurance untuk dapat ganti.

Kami tidak menduga di Canada ada yang niat menjadi pencuri. Baru ini kali ada pencuri masuk mendobrak pintu, tidak kalah sama Indonesia. Sekarang kami mau memasang pagar untuk keamanan. Tadinya tidak nyangka bakal kecurian, sebab rumah Canada kebanyakan terbuka tanpa pagar. Mobil tetangga kebanyakan di parkir di pinggir jalan.

Ada mobil teman sampai 3 kali dicuri diparkair didekat rumahnya, tiap kali ketemu rusak, tiap kali kerusakan dapat ganti dari ICBC.

Blog EntryHome made tempehDec 29, '06 7:32 PM
for everyone

How to make tempe in our home country of Indonesia? Tempe is the main dish in most family in Java. It consists so about 40 % of protein. Instead we consume meat, we can consume tempe as meat substitution for protein. Meat consist beside protein, it contain also animal fat that will cause people get cholesterol, while in tempe there is no animal fat. Tempe is also useful for vegetarian who don't like to eat meat. Our friend Hani ( a member from MP) has succeeded making tempe. We appreciate her very much for her effort to make tempe. Bravo Hani !


Because one of my hubby colleague's wife in Austin, she urged my hubby to try to make tempe. She gave us starter or yeast for making tempe. she taught my hubby how to make tempe. My hubby tried hard according the directory of the wife of his colleague. For several time he failed to make it, he didn't give up. When the tempe fail, it will smell to amoniak. We call it rotten tempe. Rotten tempe in Central Java can also be made for soup as ingredient. Because the condition is not suitable for the starter to grow, it will not grow into mycellium( tangle white thread) and will die.

My hubby writes a summary for making tempe, according to his mentod:


In
Indonesia tempeh is produced by cottage industries. The expertise of making tempeh is passed through generations.

Tempeh industries traditionally got from their ancestor are usually flocking near a river because tempeh makers need flowing water to float the hull of soybeans away. First they dehull the boiled soybeans by stomping them with their feet in large bamboo woven baskets partially submerged in the river. Then they drag the baskets to the deeper part of the river to submerge them completely and let the hull float away in the stream.

They make their tempeh starter by themselves. They use perforated banana leaves to cover or wrap the inoculated soybeans with the tempeh starter they made from their previous tempeh making. Mycelia grow through these tiny holes. The tempeh makers remove the leaves with mycelia on them when the tempeh is mature and then hang them at a certain place in their houses. Five days later, spores have developed and these leaves are ready to inoculate next batches of tempeh.

No incubators for making tempeh are needed in Indonesia because the temperature ranges from 20 to 32 degrees centigrade all year round. They bury their tempeh under a pile of leaves to keep it warm. They use their hands to check the temperature. After 12 – 14 hours, the temperature starts rising due to fermentation process, and they simply take the pile of leaves away. If necessary, they fan the tempeh to cool it off.

In some regions, tempeh makers wrap the inoculated soybeans in different kinds of broad leaves, such as banana leaves, teakwood leaves, etc. into the size of approximately 15 cm X 5 cm X 3 cm. In other regions, they make large tempeh blocks of 3 cm to 4 cm thick. They sell it by cutting it into smaller blocks


Blog Entry Winter yang MenggigitDec 17, '06 8:21 PM
for everyone
Setelah mengunjungi our son di Texas, sesudah seminggu di rumah kedatangan kami disambut dengan hujan salju setebal 30 cm. Tidak disangka hujan salju datangnya begitu dini, tidak ada persiapan kalau bakal salju datang sebelum waktunya. Salju belum sampai semua mencair dalam waktu dua minggu, disusul dengan angin keras dengan kecepatan 100 km/hour. Selama kami di Vancouver tidak pernah mengalami angin yang begitu kencang seperti ini. Pohon besar2 banyak terdapat di Park2 seperti Stainley Park, Central Park, dll. Petak2 hutan di tengah kota Vancouver masih terdapat dengan pohon yang umurnya ratusan tahun dan besar2. Ada kurang lebih 100 pohon pada tumbang, menjatuhi power line yang mengakibatkan 1 block rumah disekitar kami tidak ada listrik. Hidup di North Amerika dalam masa kini kami tidak bisa hidup tanpa ada listrik, semua serba listrik: pemanas, kompor, TV, computer serba memakai listrik.

Temperature diluar adalah maximum 5 derajat, untungnya tidak dibawa 0 derajat. Biasanya didalam rumah kalau winter minimum kami set 18 derajat. Karena temperature beda banyak yaitu 13 derajat, lama2 temperature didalam rumah drop. Listrik tak kunjung nyala, kami me-nunggu sambil meng-harap2, sudah sejak jam 3 pagi sampai dengan jam 4 sore masih juga tetap tak menyala. Temperture di dalam rumah turun sampai 13 derajat, achirnya tak tertahankan tinggal di dalam rumah. Jam 4 sore sudah gelap diluar, sebab matahari sudah terbenam. Kalau masa winter harinya pendek . Matahari terbit jam 8 pagi dan terbenam jam 4 sore.

Kami terpaksa mengungsi ke mall yang terdekat jam 5 sore. Di Mall temperature masih 18 derajat. Kami pilih tinggal di Mall sampai waktu jam tidur, jalan2 sambil beli present untuk besan2, anak2 dan cucu2. Waktu dinner pilih makan di mall. Di food court bisa mau pilih makan: mediterenian, Thai, Chinese, Italian, Mexican, Fried Chicken, A&W, Mc Donald. Memilih makan di Mall bisa mendapat makanan hangat, sedang di rumah tidak ada stove untuk memanaskan makanan. Sambil window shopping melihat orang2 dari segala macam bangsa. Ada rambut pirang bergandengan tangan dengan rambut hitam. Ada Bule berjalan bersama dengan Asia, hitam, coklat. Jadi campur aduk menjadi satu. Yang dinamakan Asia ada Japan, Korea, Chinese, Vietnam, Philipino, Thai, Indonesia, Malaysia hampir tidak ada bedanya. Banyak yang sudah kelahiran disini, bahasa Inggerisnya sudah seperti orang bule Canada. Yang rupanya India banyak bukan dari India melulu ada: Brunei, Malaysia, Indonesia Singapore, dan pulau Fiji. Jam 8 malam kami pulang dengan harapan listerik sudah nyala, ternyata belum nyala. Dengan berat hati terpaksa masuk ke dalam rumah, dingin2 pakai baju tebal, jacket dan selimut, langsung tidur. Listrik nyala baru jam 11 malam. Ini suatu pengalaman susah yang pernah kami alami dalam tahun ini.

Di dalam pikiran kami membayangkan bagaimana rasanya orang2 yang homeless, yang tidur di emperan toko2, apakah tidak kedinginan tidur diluar tanpa pelindung kena angin dingin sampai menusuk kedalam tulang. Badanya hanya di balut dengan sleeping bag dan kardus. Untung kalau ada yang mau menolong dan memasukan ke penampungan. Kadang2 tidak ketahuan sudah mati kena hipothermi, kedinginan tidak berasa. Masih mending homeless di Indo tidak takut kedinginan tidur diluar bisa leluasa, walaupun di gigit nyamuk tidak sampai mati. Cuaca di North America yang paling tidak bersahabat bagi umat manusia di waktu winter.

Tidak ada TV dan computer selama 3 hari. Tidak bisa membaca dan membalas email. Tidak tau berita TV. Sudah untung bisa masak dan pemanas. Selain daerah kami, di Vancouver Island sampai hari ini ada yang belum nyala, ada rumah kejatuhan pohon beruntung tidak memakan korban. Alhamdulilah( bersyukur pada Tuhan) bisa servive tidak mati kedinginan.

Untuk menanggulangi bencana alam BC hydro ( PLN Canada) mendatangkan bala bantuan dari kota lain untuk menyambung kabel2 yang putus dan memotong pohon yang tumbang.



Blog EntryWhy do people MigratedNov 30, '06 8:55 PM
for everyone
People migrate to another country can be considered as flying birds, looking for another place that are more comfortable for their living. By the way nowadays there are many kind of airplane, people have no problem migrated to another country. According my point of view, people want to migrate to another country because there are many reason:  They are hoping for their future,  education for their kids,  economic crisis in their country, not comfortable with their Government system,  getting fiance from another country, avoiding the discrimination from the  majority Government, not easy getting job in their country, and natural disastrous.

1. Hoping for their future will get better job, so their family will get better for living in the country they preferred. They have also to rethink living in a new country is not save and easy to get job. There are many obstacle that they have to face. I tell what I know about getting job in Canada. E.g. they get landed in Canada. There are language barrier in English or in French, no references from friends that know well, and the certificate what they bring along with from their origin country or their background are not recognized. In order they wish to get the same job like before leaving their country, they have to take course again which is standard according Canada. How long will it take? It depends on the subject you have. When they were just graduated to be a docter in their country, they have to take exam for several subject, so that they can be a docter, or for whom have been practicing as a dokter for several years in their own country they have to take course from the begining. To pass the exam is not easy. Sometimes if they were lucky, they can get yob offer from a company that need their skill.

2. Although they get good position in their own country, they still will migrate for looking better education of their kids. In their country there are not enough Universities to get into. The chance is very small. The student compete with each other. There are also discrimenations in accepting student in the Government Universities. If their children are not so smart, not from Government High school, there is limitation for accepting minorities student. If the student have not high mark the parents have to pay, and it is expensive. They prefer to sent their child to go abroad to study. Their child can learn how to be independent. Their child can know how to manage his/her money with looking job in the University. If he/she smart, he/she can get easy job from his professor. Some professors give chances to their student, so that their student can get experiences.

3. Running for avoiding the war or demonstration by the people e.q. the days before election for members of parliament or President, it happen frequently in developing country. They prefer living in peace in other country. Because there will be economic turmoil, the people can't get easily job. They migrate to another country that has been already established.
If there is revolution, they ran away to avoid in getting involve. They are afraid of being blame as scape goats. They are not allowed to have weapon to protect or prevent themself. They have to migrate to another country asking for asylum. If there was also war between tribes, the looser ran away to avoid the war. They migrate to their neighbours' country for asking protection.

4. Avoiding the Government that are not suitable with their ideology or opinion. Because of doing their misconduct, they are afraid to be caught and to be judge and ran away to another country as refugee. Sometimes they were members of the opposition party of the current Government that is in power. In third world country, they can be iliminated without judging. Instead they are prosecuted by the court, the only way for them is running away.

5. There are many girls from third world countries who want to marry single men from developing country.  They are thinking and planning to choose for better living, for their future generation, for good looking offspring, and including many other reasons.  Getting a foreigner as a fiance or married with a man or woman who were not accepted in her/his country. In order he/she has to avoid to pay tax as foreigner, they prefer to live in their fiance's or their partner's country. They have better to follow their husband to the country which their husband can get job without paying tax. In Canada, the imigrated spouse don't have to pay tax as long as they are still jobless.
First, sometimes young people have their own choice for their partner to live with. Nobody can interfere with their choice. Secondly the majority of certain country has the power to prohibit young people to marry with another believe or mix marriage. If they don't want to change their religion into the majority religion, which is one of them has already the majority belief, they may not marry unless they want to convert first into the majority believe before the marriage. That's the problem if one of them don't want to convert to another religion.  They like to marry in another country that don't have restriction about each person's religion. Nowadays young people can't be force to marry someone who is not his/ her choice. Because they have to plan to marry with love and only once for their life time, marriage are not for short time. If they are not happy with their marriage which are forced by parents belief or based on religion belief, they have to suffer for their whole life. As parents being don't want to see that will happening to their children.

6. As minorities base on race, culture, and religion, they can't get easy job and prefer to migrate to another country. There is a difference for minorities between in developing country and Canada about job position in the Government. In the developing country the minoritis have no chance to get high position in the Government as civil servant, but in Canada minorities still can get high position in Government e.q. Governor General as Representative of Queen Elizabeth. Now our Governor General is a woman originally from Haiti, before was a woman from Hong Kong. Although minorities were born and came from developing country, they could tell me that they felt better to become minorities in Canada than in some developing country. In some developing country a certain minority are not welcome by the majority. The majority expelled the minority out of the country, and the majority want to own their property. I think that is unfair and unhuman. It is not surprising when there is hostility happening between the minority's country and their refuge country. It will make them not comfortable anymore while living in their refuge country.

7. Because there are many smart people, they lose their competation for getting good position. They choose to migrate to a better country which is still chance to get a job.

8. Because of natural disaster like landslide, earthquake, flooding, people have to migrate to another safety place or country. When there were also lack of rain in some area which cause famine. People migrate to country which a plenty of food are available.

There is a philosophy or a proverb in Chinese from a friend : When someone is hurting somebody else, and he/she get hurt back.

A country with its Government is good in its administration and have a prosparous, fertile land, wants to protect, and create jobs to its people so that they can live in peace and harmony. The country will grow in prosperous, and automatically there will be less people reluctant want to leave their country asking for assylum as refugee from another country.


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help